WEB 3.O
WEB 3.0
Apa itu Web 3.0?
Sebelum membahas Web 3.0 ada baiknya kita mengetahui generasi web sebelumnya yaitu Web 1.0 dan Web 2.0 di bawah ini
1. Web 1.0
Web 1.0 merupakan generasi pertama dari
website. Sebagian besar iterasi pertama internet diiisi dengan halaman web HTML
statis yang menampilkan data non-interaktif. Layanan internet kala itu masih berkisar diantara
web statis yang saling dihubungkan dengan hyperlink. Umumnya website berformat
“brosur online” – website yang menyampaikan informasi satu arah – umumnya
berbentuk profile, portal berita, toko online, layanan email, dan lain-lain. Web kala itu
dihuni oleh website-website yang di desain menggunakan table dan flash.
Contohnya adalah DotCom Bubble Burst, atau DotCom Crash, atau DotCOm Doom.
Terlepas dari keterbatasan
yang dimiliki oleh era internet awal. Setelah diluncurkan pada tahun 19990 web
1.0 dengan cepat merevolusi cara orang untuk dapat terhubung dan bertukar
informasi serta memperkenakan dunia digital baru yang membuat manusia terpikat
dengan dunia maya sejak lahirnya internet. Ciri-ciri
Web 1.0 adalah sebagai berikut:
1. Web pages bersifat statik, di mana website hanya
bersifat “read-only” sehingga terjadi komunikasi satu arah. Pembaca hanya dapat menerima informasi, tanpa berpartisipasi dalam
memberikan infromasi.
2. Penggunaan frameset, yaitu tampilan beberapa
buah web page dalam satu window.
3. Penggunaan tag HTML seperti <blink> dan <marquee>
4. Adanya fitur buku tamu online
5. Penggunaan button dengan format GIF, biasanya 88 x 31 untuk promosi produk
2. Web 2.0
Istilah Web 2.0 diperkenalkan oleh Darcy DiNucci dalam artikelnya yang berjudul “Fragmented Future”. Meskipun demikian, istilah Web 2.0 mulai muncul ke permukaan ketika Tim O’Reilly dari O’Reilly Media mengadakan konferensi Web 2.0 pertama kalinya di tahun 2004. Pada hakikatnya, Web 2.0 menggambarkan aplikasi web yang memungkinkan kita untuk berbagi informasi, interoperability, user-centered design, dan berkolaborasi. Intinya, user dimungkinkan untuk berkontribusi terhadap konten informasi yang tersedia dalam web. Hal ini berbeda dengan Web 1.0, di mana user hanya menjadi pengguna pasif yang hanya menelan informasi pada website tertentu.
Dalam perkembangannya ada beberapa karakteristik dari web 2.0, yaitu :
1. The Web as Platform, pengerjaan suatu aplikasi atau tulisan dapat langsung dikerjakan di media internet tanpa harus mengerjakannya terlebih dahulu di windows desktop.
2. Harnessing Collective Intelligence, web 2.0 memiliki kinerja untuk memanfaatkan tulisan orang lian untuk mengisi konten web secara kolektif (tidak hanya webmaster yang mengisi konten sendiri, contohnya YouTube)
3. Data is the Next Intel Inside, merupakan suatu garansi kepercayaan dari para pemberi data kepada pemilik website bahwa pada era web 2.0 data sangatlah penting dan harus update setiap waktu.
4. End of the Software Release Cycle, pada Web 2.0 aplikasi software dapat langsung digunakan lewat internet atau internet menjadi platform menjalankan program.
5. Lightweight Programming Models, pembuatan Web 2.0 menggunakan bahasa yang ringan a mendukung pengembangan program.
3. Web 3.0
Dengan boomingnya Web 2.0, para pakar internet mulai berpikir untuk mengembangkan generasi selanjutnya dari Web 2.0, yaitu Web 3.0. Konsep Web 3.0 pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001, yaitu saat Tim Berners-Lee, penemu World Wide Web, menulis sebuah artikel ilmiah yang menggambarkan Web 3.0 sebagai sebuah sarana bagi mesin untuk membaca halamanhalaman Web. Hal ini berarti bahwa mesin akan memiliki kemampuan membaca Web sama seperti yang manusia dapat lakukan sekarang ini.
Web 3.0 adalah sebuah konsep menyeluruh yang mengacu pada fase berikutnya dari evolusi internet. Gagasan baru ini sengaja dirancang untuk mengatasi masalah umum yang berpotensi menjadi masalah yang melekat pada internet saat ini. Selain itu, konsep ini juga hadir untuk membangun ekosistem online di mana interaksi yang berpusat pada manusia dan sangat personal.
Web 3.0 sengaja dirancang untuk mengatasi masalah yang lazim dan melekat pada ekosistem internet saat ini. Namun, tidak ada otoritas terpusat yang mengawasi perkembangan internet baru dan terbuka ini. Sebaliknya, internet versi ini tengah dibuat melalui upaya berbagai macam bisnis swasta, non-profit organization, dan individu yang diselaraskan secara bebas.
Menurut
PC magazine karakteristik dari web 3.0 adalah :
1. Semantic Web, web dengan kemampuan membaca situs semudah manusia membacanya sehingga informasi dapat disajikan dengan cepat dan tepat.
2. The 3D Web, web dengan kemampuan visual 3D dan interaksi secara realtime.
3. The Media-Centric Web, photo, audio, dan video akan menjadi cara lain untuk mencari informasi yang kita inginkan selain keyword.
4. The Pervasive Web, web yang mudah diakses dengan berbagai cara dan alat berbeda kapan saja dan dimana saja.
Perbedaan Web 1.0, Web 2.0 dan Web 3.0
1.
Pada web 1.0, pengguna seakan hanya menjadi konsumen dari web.
Sangat minim interaksi terjadi antara web dan penggunanya.
2. Pada generasi keduanya, pengguna sudah
bisa mengalami pengalaman ‘share’. Munculnya sosial
media, interaksi beberapa orang melalui messenger, dan
lain-lain.
3. Pada web 3.0, kesan yang ingin dirasakan pengguna adalah sesuatu yang
‘live’. Web 3.0 seakan menghadirkan, atau dapat dibilang
menggantikan dunia pengguna yang sesungguhnya. Dapat dilihat semakin tinggi
intensitas pengguna internet zaman sekarang. Ini adalah dampak dari real-time yang dihadirkan oleh web 3.0. Web 3.0
juga menghadirkan segala aspek yang ada di sekeliling kita menjadi hanya dalam
genggaman. Kita mulai mendengar istilah ‘one-touch living’,
karena semua yang kita butuhkan dapat dipenuhi oleh gadget yang kita miliki.
Pengaruh Web 3.0 pada Aset Crypto
Dengan adanya desentralisasi,
nyatanya pengaruh Web 3.0 terhadap cryptocurrency cukup besar.
Mengingat bahwa desentralisasi kemungkinan akan menjadi salah satu bagian utama
dari internet konsep baru ini, dapat disimpulkan bahwa aset kripto dan
blockchain juga akan memainkan peran penting yang juga sama besarnya.
Gelombang Web 3.0 yang akan datang diprediksi akan jauh melampaui use case awal cryptocurrency. Melalui kekayaan peluang interaksi dan cakupan rekanan yang tersedia secara global, jaringan ini secara kriptografis dapat menghubungkan data dari berbagai skala. Mulai dari individu, perusahaan, dan mesin dengan algoritma machine learning yang lebih efisien. Kondisi tersebut tentu saja membedakan Web 3.0 dengan sekarang dalam kasus cryptocurrency.
Web 3.0 memungkinkan masa depan di
mana pengguna dan mesin dapat berinteraksi dengan data, nilai, dan rekanan
lainnya melalui substrat jaringan bersifat peer-to-peer. Dengan
begitu, interaksi tidak lagi memerlukan pihak ketiga.



Komentar
Posting Komentar